Banten Dalam Dimensi Waktu : Sejarah Singkat Kerajaan di Banten

Banten Dalam Dimensi Waktu : Sejarah Singkat Kerajaan di Banten

Oleh: Sughron Jazila

 

Pada abad ke 11, ada kerajaan yang disebut Pajajaran dengan ibukota Pakuan. Kerajaan sendiri memiliki 2 pelabuhan utama, yaitu: Banten dan Kelapa. Perlu diketahui, bahwa di Kerajaan Pajajaran memiliki 2 pelabuhan utama, yaitu Pelabuhan Kelapa dan Pelabuhan Banten. Perlu diketahui bahwa kerajaan tersebut terdiri dari beberapa negeri. Salah satunya adalah Banten, dengan ibukota Banten Girang.

Nama Banten sendiri mulai terdengar sekitar abad ke XII-XV, yaitu bahwa Banten merupakan pelabuhan kerajaan Sunda. H. Ten Dam, seorang pakar pertanian yang meneliti social-ekonomi petani Jawa Barat dengan perspektif sejarah mengatakan bahwa di ada Ibukota Kerajaan Pajajaran, yang di zaman modern ini ada di wilayah Bogor, telah memiliki dua jalur utama yang menghubungkan ibukota dengan wilayah pelabuhan. Salah satu jalan itu adalah jalan dari ibukota menuju Jasinga, kemudian membelok ke Rangkasbitung, dan berakhir di ibukota Banten, Banten Girang, sekitar 3km dari pusat Kota Serang atau 13km dari Banten Lama.

Jika merunut lebih jauh ke belakang, nama Banten atau dahulu yang dikenal dengan Bantam adalah kota yang sangat ramai, terbuka, dan makmur. Banten pada abad ke 5 adalah bagian dari Kerajaan Tarumanegara. Setelah kerajaan ini runtuh akibat serangan Sriwijaya, kekuasaan di daerah ini dilanjutkan oleh Tome Pires, penjelajah Portugis tahun 1513.

Pada saat kekuasaan Kerajaan Pajajaran merosot, maka Kerajaan Banten memanfaatkan hal ini untuk melepaskan diri dari kekuasaan kerajaan Pajajaran. Orang-orang Islam di Demak pun melihat hal ini sebagai kesempatan untuk merebut kota-kota pelabuhan di wilayah bagian barat pulau jawa, dan mulai melancarkan serangan mulai sekitar tahun 1520. Mengetahui hal ini, maka Kerajaan Banten meminta kepada pihak Portugis di Melaka untuk membantu dalam menanggulangi serangan dari Demak, dengan ditandai pembangunan benteng di wilayah timur kerajaan, karena serangan berasal dari timur.

Sekitar satu atau dua tahun kemudian, pihak Demak mengirim seorang ulama, Sunan Gunung Jati dan putranya Hasanudin menuju ibukota Kerajaan Banten, yaitu Banten Girang. Ini dilakukan untuk membantu penyerangan dari dalam. Tetapi tujuan sebenarnya adalah menuju Gunung Pulosari. Pada saat itu Gunung Pulosari merupakan gunung yang sangat penting dalam spiritual Kerajaan Banten, dan penting bagi kedua orang tersebut untuk menaklukan gunung itu secara batin, sebelum menaklukkan secara militer.

sunan gunung jati

Sunan Gunung Jati, sang penegak Kesultanan Banten

Selain itu, karena raja Banten yang melakukan kerjasama dengan pihak Portugis telah meninggal, rupanya membuat pihak Portugis tidak cepat bereaksi untuk membangun benteng. Hal ini menjadi kesempatan bagi Demak untuk segera menyerang.

Akhirnya pada saat Portugis dating di pelabuhan sekitar Desember 1526, pelabuhan sudah dikuasai tentara Islam yang akan siap-siap menyerang ibukota Banten Girang. Dan pada tahun 1527, Kesultanan Banten berdiri dengan raja pertama Maulana Hasanudin.

Kurang lebih 6 bulan kemudian, Portugis mengirimkan utusan untuk menemui Raja Banten yang baru yang beragama Islam, Maulana Hasanudin, agar diizinkan untuk membangun Benteng di wilayah timur. Tujuannya agar Portugis bias melindungi kepentingan ekonomi dari pihak Spanyol yang saat itu akan datang menuju Nusantara. Tetapi hal itu ditolak oleh Maulana Hasanudin, dan membuat Portugis pulang ke Melaka dengan gigit jari.

Sketsa Maulana Hasanuddin

Sketsa Maulana Hasanuddin

Ketika kerajaan Islam berdiri, pusat kekuasaan di Banten yang semula berada di Banten Girang, dipindahkan ke Kerator Surosowan di Banten Lama, dekat pantai. Dari sudut politik dan ekonomi, hal ini dimaksudkan agar memudahkan hubungan antara pesisir utara Pulau Jawa dengan pesisir Sumatera melalui Selat Sunda dan Samudera Hindia. Situasi ini berkaitan dengan kondisi politik masa itu, di mana Melaka sudah jatuh di bawah kekuasaan portugis, sehingga para pedagang mengalihkan jalurnya melalui Selat Sunda.

Lukisan litograf Masjid Agung Banten pada kurun waktu 1882-1889

Lukisan litograf Masjid Agung Banten pada kurun waktu 1882-1889

Setelah kekuasaan Maulana Hasanudin, yang menjadi pemimpin adalah Maulana Yusuf, yang menjadi Raja Banten yang kedua. Hal yang dilakukan olehnya adalah memperluas wilayah kekuasaan Banten sampai jauh ke daerah-daerah yang dahulu masih dikuasai kerajaan Pajajaran, bahkan menduduki ibukota Pakuan. Hal ini ditandai dengan dirampasnya Palangka Sriman Sriwacama, yaitu batu penobatan tempat seorang calon raja dari trah Kerajaan Pajajaran untuk menjadi raja pada tradisi monarki di Pajajaran, yang dipindahkan ke Keraton Surosowan di Banten Lama oleh pasukan Maulana Yusuf.

Batu ini dibawa agar tradisi politik di Pajajaran dalam mengangkat raja baru tidak mungkin lagi dilakukan, dan Maulana Yusuf mengklaim bahwa dia sebagai penerus kekuasaan Sunda Pajajaran yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja, raja pertama Pajajaran.

Pada saat Maulana Yusuf wafat, yang berhak menggantikan adalah Maulana Muhammad. Tetapi karena pada saat itu pangeran masih kecil, maka yang menjadi wali raja adalah Aria Japara.

Salah satu peristiwa penting pada masa pemerintahan Maulana Muhammad adalah kedatangan armada kapal Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman pada tahun 1596 yang berlabuh di Pelabuhan Banten. Dari para penjelajah Belanda inilah banyak catatan tertulis yang berharga tentang Banten. Mulai dari barang perdagangan yang ada di Pasar Banten, yaitu barang local dan impor seperti sutera, beludrum porselin, buah, sayur, cabe, gula, madu, tombak, dll. Ataupun cara bertransaksi yang rupanya telah menggunakan mata uang sebagai alat pembayaran. Dan menurut Tome Pires bahwa beberapa pelabuhan seperti Pontang dan Tangerang ditemukan mata uang Cina. Ini menunjukkan bahwa Banten telah mendapat perhatian dari pedagang-pedagang internasional dan asing.

Kesultanan Banten mencapai kejayaan pada abad ke 17, yaitu masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, di mana Banten membangun armada dengan contoh Eropa serta memberi upah kepada pekerja Eropa. Selain itu, Banten juga melakukan monopoli lada di Lampung yang menjadi perantara perdagangan dengan negara-negara lain, sehingga Banen menjadi wilayah yang multi etnis dan perdagangannya berkembang dengan pesat.

Namun, Sultan Ageng Tirtayasa sangan menentang Belanda yang terlalu ikut campur dalam tataran pemerintahan dan yang berusaha memonopoli perdagangan yang terbentuk dalam VOC dan berusaha keluar dari tekanan VOC yang telah memblokade kapal dagang menuju Banten.

Hal utama yang membuat kerajaan Banten runtuh adalah perang saudara antara Sultan Ageng dengan putranya, Sultan Haji. Perang ini terjadi karena pertentangan ideology antara mereka berdua, dimana Sultan Haji menginginkan berlakunya hukum syariah dan kebencian serta tindakan semena-mena kepada kaum tionghoa, dan Sultan Ageng yang mengangkat senjata untuk mengusir Sultan Haji karena tindakan semena-mena tersebut. Akhirnya Sultan Haji yang terjebak di bentengnya meminta bantuan kepada Belanda, yang merupakan musuh Sultan Haji yang kedua setelah Tionghoa. Hal ini mengakibatkan masuknya campur tangan dari Belanda dan mengakhiri kemerdekaan kerajaan tersebut.

 

leoagustino

Leave a Reply