PENINGGALAN RUMAH MULTATULI / EDUARD DOUWES DEKKER

PENINGGALAN RUMAH MULTATULI / EDUARD DOUWES DEKKER

Oleh: Asep Hidayat

Eduard Douwes Dekker / MultatuliMultatuli atau Eduard Douwes Dekker 150 tahun lalu adalah asisten residen di Lebak, Banten. Di Belanda, ia dicap sebagai pegawai negeri yang diasingkan. Di pertengahan abad ke-19, Multatuli menulis keprihatinannya seputar kebijakan tanam paksa di Rangkasbitung. Havelaar, tokoh protagonis roman Max Havelaar, berupaya melawan kekejaman Hindia Belanda dan Bupati Raden Tumenggung Adipati Kartanatanegara. Hingga kini pun, Lebak masih dipimpin oleh bupati atau regent, kendati jabatan ini tidak lagi diwariskan turun-temurun. Oktober 2009 silam, penduduk Lebak dapat memilih langsung pemimpin mereka. Eduard Douwes Dekker, diangkat sebagai asisten residen Lebak pada 4 Januari 1856. Pemuda Belanda berusia 35 tahun itu mulai bertugas di Lebak sejak 22 Januari 1856 dan berhenti dua bulan setengah kemudian. Dowes Dekker yang lebih dikenal dengan nama Multatuli adalah salah satu warga Belanda yang menggelorakan anti tanam paksa pada masa penjajahan, yang akhirnya pada masanya, beliau ditarik ke Belanda dan akhirnya memilih hidup di Belgia. Max Havelaar yang menggegerkan publik pada 1860 tergeletak di bangku belakang; magnet yang menggeret langkah kami ke Rangkas. Novel satir buah karya Multatuli, nama pena yang digunakan oleh Eduard Douwes Dekker yang diambil dari bahasa Latin yang mengandung pengertian aku sudah banyak menderita. Multatuli, Asisten Residen Lebak, mengungkap kegetiran semasa tanam paksa yang dipakai oleh pemerintah Hindia Belanda untuk mereguk keuntungan akibat carut marutnya kas Belanda yang terkuras semasa perang Jawa.

RUMAH MULTATULI

Rumah Lama Multatuli (Sumber: Kemdikbud)

Rumah Lama Multatuli (Sumber: Kemdikbud)

Posisi rumah multatuli itu berdiri agak tersembunyi di balik bangunan baru Rumah Sakit Umum Dr. Adjidarmo, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten. Rerumputan tumbuh liar di halaman.  Lantai berdebu, kaca nako merosot hampir lepas dari jepit penyangganya, meja-kursi yang tergeletak tak beraturan menambah kusam penampilan rumah. Rumah itu pun lebih menyerupai kantor yang lama tak digunakan ketimbang bekas kediaman asisten residen yang namanya terkenal ke seantero jagat  Eduard Douwes Dekker alias Multatuli.

Kecuali sebidang tembok tua selebar kira-kira enam meter setinggi lima meter yang masih berdiri tegak ditambah batu bata merah berukuran 30 x 8 sentimeter menyembul pada pelur geligir atas yang rompal, tak lagi tanda-tanda guratan kisah masa lalu pada rumah itu. Genteng, tegel, kaca, kusen, daun pintu dan jendela bukan datang dari zaman saat Bupati Raden Adipati Karta Natanagara berkuasa di Lebak. Paling lama berusia setengah abad. “Kemungkinan besar bangunan asli sudah tak ada lagi,” kata Bambang Eryudhawan, arsitek dari Pusat Dokumentasi Arsitektur Indonesia.

Eduard Douwes Dekker, bekas penghuni rumah itu, diangkat sebagai asisten residen Lebak pada 4 Januari 1856. Pemuda Belanda berusia 35 tahun itu mulai bertugas di Lebak sejak 22 Januari 1856 dan berhenti dua bulan setengah kemudian. Pada 1839 setahun setelah sampai di Batavia, Multatuli mendapat pekerjaan sebagai ambtenaar/klerk di kantor Pengawas Keuangan. Karirnya sebagai pegawai negeri berlanjut dengan kepindahannya ke Natal, Sumatera Barat sebagai kontrolir. Setelah berpindah tugas dari Manado, Purworejo hingga menduduki jabatan kedua tertinggi sebagai asisten residen di Ambon; pada 21 Januari 1856 Multatuli menginjakkan kaki di Lebak, Banten sebagai asisten residen.

Salah satu tugas yang diemban sebagai asisten residen adalah mengawasi kinerja bupati di daerahnya. Sebulan di Lebak, Multatuli mulai bersinggungan dengan bupati Adipati Kartanata Nagara yang ditengarai telah memeras dan merampas harta rakyatnya. Feodalisme dimanfaatkan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk mereguk keuntungan dari daerah jajahannya. Hal yang tidak serasi dengan kata hati Multatuli dan tidak sejalan dengan semboyan revolusi Perancis liberte, egalite dan fraterniteyang memandang manusia itu memiliki kebebasan, kesetaraan dan persaudaraan. Multatuli melaporkan hasil temuannya kepada atasannya residen Banten, Brest van Kempen yang ternyata malah memihak kepada Kartanata Nagara dan menonaktifkan dirinya dari jabatan asisten residen.

Rasa kecewa dan perlawanan dari dalam jiwanya membawa Multatuli pulang ke Belanda dan melahirkan Max Havelaar. Satu bagian yang sering diangkat dari buku ini adalah Saijah dan Adinda yang masih sensitif sehingga filmnya pun mengalami kendala publikasi oleh pemerintah. Berpayung gerimis, kami berdiri di depan bangunan yang difungsikan sebagai gudangrongsokan di belakang RS Adjidarmo, Rangkas. Hanya pucuk dinding sisi kanan bangunan yang terlihat sebagai penanda bangunan tersebut adalah bangunan kuno. Sedang bagian lainnya adalah bangunan baru yang usang karena tak terawat. Tak ada yang bisa ditanyai di sekitar rumah sakit sekedar untuk memastikan bangunan tersebut adalah rumah yang pernah ditempati oleh Multatuli saat bertugas di Lebak. Di bawah ini ada gambar kondisi sekarang :

Rumah lama Multatuli saat ini (Sumber: Dokumen Penulis)

Rumah lama Multatuli saat ini (Sumber: Dokumen Penulis)

Rumah lama Multatuli saat ini (Sumber: Dokumen Penulis)

Rumah lama Multatuli saat ini (Sumber: Dokumen Penulis)

 

 

Bekas perumahan Multatuli (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Bekas perumahan Multatuli (Sumber: Dokumentasi Penulis)

leoagustino

Leave a Reply